Monday, 20 July 2026
Jaringan Media
Logo Site
TERPOPULER • PCNU dan PEMKAB BANYUWANGI Sinergikan Langkah untuk Kemaslahatan Umat • MANTABKAN LANGKAH, PCNU RAPAT KORDINASI • Nu Online Merancang Grand Planing 5 Tahun Kedepan • KEPALA BPN SAMBANGI PCNU • PENGUKUHAN LTNU, SEBAGAI WUJUD GERAKAN LITERASI NU BANYUWANGI • Optimalisasi Website NU Online, PCNU Banyuwangi Gelar Meet and Great Virtual Bersama NU Online • Pengurus Baru LKNU Banyuwangi Dikukuhkan, Siap Bangun Zona Hijau Kesehatan • GP Ansor Muncar Gelar Istighatsah Malam Petik Laut, Doakan Ikan Melimpah dan Ekonomi Nelayan Membaik • PCNU Banyuwangi Sambut Silaturahmi DPC PKB Jelang Harlah Ke-28, Teguhkan Sinergi untuk Umat • "MWC, Lembaga, dan Banom Harus Aktif dan Satu Komando," Tegas Ketua PCNU Banyuwangi dalam TURBA Ngerandu NU di Kalipuro

Kiai dari Lateng: Satu Kisah tentang Lelaki yang Hadir di Hari NU Lahir

NU Online Banyuwangi

Editor/Penulisa 08 Jul 2026 23:44 WIB

Bagikan Artikel
Link berhasil disalin!

Surabaya, 31 Januari 1926. Di sebuah ruangan yang penuh dengan ulama dari penjuru Jawa dan Madura, seorang kiai dari ujung paling timur Pulau Jawa berdiri di podium. Ia berpidato. Di sekelilingnya ada nama-nama yang kelak menjadi tiang sejarah Islam Nusantara: Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari, KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Bisri Syansuri. Dan beliau–Ki Agus Muhammad Saleh dari Lateng, Banyuwangi–hadir di antara mereka, sebagai salah satu formatur organisasi yang hari itu resmi lahir: Nahdlatul Ulama (NU Online, 2024).

Banyuwangi sering disebut ujung dunia. Titik paling timur Jawa, berbatasan langsung dengan selat yang memisahkan Jawa dan Bali. Tapi hari itu, dari ujung dunia tersebut, datang seorang kiai yang meninggalkan jejak di hari paling bersejarah bagi umat Islam Indonesia.

Banyak yang tahu tanggal 31 Januari 1926. Tidak banyak yang tahu bahwa Banyuwangi hadir di sana.

Dari Kampung Mandar

Beliau lahir pada Ahad, 6 Ramadhan 1278 H–bertepatan dengan 7 Maret 1862–di Kampung Mandar, Kota Banyuwangi. Nama kecilnya Ki Agus Muhammad Saleh, putra dari Ki Agus Abdul Hadi (Initu.id, 2018). Kemudian dunia mencatatnya sebagai Kiai Saleh Lateng, nama yang diambil dari daerah tempat ia mengabdi dan dimakamkan.

Nasabnya panjang. Dari berbagai sumber, jalur keturunannya disebut tersambung hingga Bangsawan Palembang Darussalam, Fatahillah, lalu ke atas hingga Rasulullah SAW (Laduni.id, n.d.; Times Indonesia, 2020). Bagi masyarakat pesantren, sanad nasab semacam ini bukan sekadar catatan silsilah–ia adalah bagian dari keberkahan yang diyakini mengalir dalam diri seorang kiai.

Banyuwangi 1862 bukan kota santri. Melainkan kota pelabuhan, wilayah perbatasan dengan sejarah Kerajaan Blambangan yang panjang dan keras. Tapi di Kampung Mandar, ada seorang anak yang sedari kecil gemar mengaji dan tak pernah puas dengan ilmu yang ada di depannya.

Pengembaraan yang Panjang

Pada usia 15 tahun, Kiai Saleh mulai mengembara. Beliau belajar kepada Kiai Mas Ahmad di Kebon Dalem, Surabaya. Dari sana, Saleh kecil melanjutkan ke Bangkalan, Madura–berguru pada ulama paling disegani di masanya, Syaikhona Kholil (Berita Jatim, 2023).

Di pesantren Syaikhona Kholil, ada satu kisah yang melekat tentang Kiai Saleh muda: ia menjadi satu-satunya santri yang bersedia menemani putra Kiai Kholil mencari uang untuk biaya berangkat haji. Sebuah pilihan kecil yang mencerminkan karakter besar–ketulusan dan kesetiaan yang tak menghitung untung rugi (Initu.id, 2018). Bahkan, Kiai Kholil Bangkalan pernah berkata bahwa se-Jawa Timur tidak ada yang dapat menandingi kemampuan Kiai Saleh dalam kitab Alfiyah (Initu.id, 2018).

Pengembaraannya tidak berhenti di Madura. Beliau berlayar ke Bali, berguru kepada Tuan Guru Muhammad Said Jembrana. Lalu berlayar lebih jauh–ke Tanah Suci, Makkah. Enam tahun ia menetap di sana, mendalami ilmu, bahkan sempat mengajar pelajar-pelajar Makkah dengan menggunakan empat bahasa (Initu.id, 2018). Sebuah catatan yang menunjukkan betapa tinggi derajat keilmuannya di antara para ulama Nusantara yang bermukim di Haramain.

Ia baru kembali ke Banyuwangi sekitar tahun 1900, pada usia kurang lebih 38 tahun, setelah dipanggil pulang oleh gurunya, Kiai Kholil Bangkalan. Kampung Lateng, Banyuwangi, menjadi tempatnya mengabdikan seluruh sisa hidupnya (Initu.id, 2018).

Kiai Surau yang Ditakuti Bromocorah

Kiai Saleh tidak mendirikan pesantren besar. Ia hanya punya surau sederhana di Lateng. Tapi kesederhanaannya tidak mencerminkan pengaruhnya. Para ulama se-Jawa dan Madura menghormatinya. Dan hal yang lebih mengejutkan, para bromocorah dan jagoan jalanan Banyuwangi pun takluk padanya. Bukan karena takut, tapi karena kagum. Mereka belajar mengaji, belajar bela diri, dan berjuang bersama melawan penjajah di bawah pengaruh Kiai Saleh (Times Indonesia, 2020).

Dari situlah lahir semboyan yang fenomenal: “Satu guru jangan saling mengganggu.” Banyuwangi yang kala itu diwarnai pertikaian antar kelompok perlahan mereda. Kelompok-kelompok yang berseteru sadar, bahwa mereka berguru pada orang yang sama–dan sesama murid pantang saling melukai (NU Online, 2024). Sebuah kalimat pendek yang berhasil melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh kekerasan.

Pada tahun 1913, pengaruhnya sudah sedemikian besar sehingga Kiai Saleh dipercaya memimpin Rapat Umum Sarekat Islam di Kawedanan Glenmore, Banyuwangi–sebuah forum politik–keagamaan yang penting di awal abad ke-20 (Kabar Baik, 2025).

Hadir di Hari yang Paling Bersejarah

Di sinilah inti kisah ini.

Ketika Komite Hijaz dibentuk dan para ulama Nusantara berkumpul untuk merespons perkembangan di Tanah Suci, Kiai Saleh Lateng turut hadir. Dan pada 16 Rajab 1344 H, bertepatan dengan 31 Januari 1926, dalam pertemuan bersejarah yang kemudian dikenal sebagai hari lahir Nahdlatul Ulama, Kiai Saleh tidak hanya hadir sebagai penonton–ia berpidato di podium. Kemudian, KH Hasyim Asy'ari dan KH. Wahab Chasbullah menunjuknya sebagai anggota muassis-mukhtasar, formatur pembentukan pengurus Nahdlatul Ulama yang pertama (NU Online, 2024; Merdeka.com, 2018).

Dua tahun kemudian, pada 1928, Kiai Saleh menjabat sebagai Mustasyar PBNU (Berita Jatim, 2023). Posisi tertinggi dalam jajaran penasihat organisasi Islam terbesar di Indonesia–dipegang oleh seorang kiai surau dari Lateng, Banyuwangi.

Banyuwangi punya satu lagi titik bersejarah lainnya yang jarang diketahui. Pada 24 April 1934, di tengah Muktamar ke-9 NU yang digelar di Banyuwangi, tepat di Masjid Kiai Saleh Lateng, lahirlah Gerakan Pemuda Ansor–yang kala itu masih bernama Ansor Nahdlatul Oelama (ANO) (Kabar Baik, 2025; NU Online Jatim, 2023). Masjid sederhana itu menjadi saksi dua kelahiran besar: Nahdlatul Ulama dan sayap pemudanya.

Ada satu cerita menarik lagi yang perlu dicatat. KH Wahid Hasyim, yang pada masanya menjabat sebagai Menteri Agama, pernah mencari sebuah kitab tertentu yang sulit ditemukan. Kitab itu ternyata ada di koleksi Kiai Saleh Lateng (Merdeka.com, 2018). Seorang Menteri Agama nasional mencari kitab ke seorang kiai dari ujung timur Jawa–ini bukan cerita kecil.

Di Garis Terdepan

Kiai Saleh Lateng bukan hanya ulama. Beliau adalah pejuang dalam arti yang sesungguhnya.

Ketika Resolusi Jihad 21–22 Oktober 1945 dirumuskan–yang kemudian melahirkan Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya–Kiai Saleh Lateng terlibat di dalamnya. Kiai Saleh tidak sekadar mengirim santri ke medan perang. Melainkan juga, ikut terjun di garis depan (Merdeka.com, 2018).

Perlawanannya tidak hanya bersifat fisik. Dalam menghadapi penjajah Belanda, Kiai Saleh juga melancarkan perlawanan kultural. Beliau melarang para santri memakai celana, jas, dan dasi—seragam khas kolonial. Sebagai gantinya, ialah kopiah dan sarung. Sebuah gestur kecil yang memuat pesan besar tentang identitas dan martabat (Merdeka.com, 2018). Perintah serupa juga diberikan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari–ini bukan kebetulan, melainkan strategi bersama para ulama NU dalam menghadapi hegemoni budaya kolonial.

Nama yang Jadi Jalan

Kiai Saleh Lateng wafat pada malam Rabu, 29 Dzulqa'dah 1371 H, bertepatan dengan 20 Agustus 1952–di usia 93 tahun. Jenazahnya dimakamkan di samping surau kecil yang selama puluhan tahun ia jadikan tempat mengajar para santrinya (NU Online, 2024).

Empat tahun kemudian, pada 1956, DPRD Kabupaten Banyuwangi mengambil keputusan: nama KH. Saleh Lateng diabadikan sebagai nama sebuah ruas jalan di Banyuwangi. Sebuah penghormatan resmi dari negara kepada ulama yang semasa hidupnya tak pernah meminta diakui (Berita Jatim, 2023).

Kiai Saleh Lateng tidak meninggalkan pesantren besar, tidak meninggalkan warisan bangunan megah. Yang beliau tinggalkan adalah jejak yang tidak bisa dihapus, yakni kehadiran di hari NU lahir, lapangan tempat GP Ansor berdiri, dan garis terdepan perjuangan kemerdekaan.

Nama besarnya kini menjadi nama jalan. Mungkin memang begitu cara sejarah mengenang mereka yang semasa hidupnya selalu membuka jalan.

DAFTAR PUSTAKA

Berita Jatim. (2023, Juli 13). Kiprah Kiai Saleh Lateng pendiri Pesantren Lateng Banyuwangi. Berita Jatim. https://beritajatim.com/kiprah-kiai-saleh-lateng-pendiri-pesantren-lateng-banyuwangi

Initu.id. (2018, Mei 26). Biografi sejarah Kyai Saleh Lateng pejuang revolusi asal Banyuwangi. Initu.id. https://initu.id/biografi-sejarah-kyai-saleh-lateng-pejuang-revolusi-asal-banyuwangi/

Kabar Baik. (2025, Maret 9). Kiai Saleh Lateng, sosok pembesar NU di Banyuwangi. Kabar Baik. https://kabarbaik.co/kiai-saleh-lateng-sosok-pembesar-nu-di-banyuwangi/

Laduni.id. (n.d.). Biografi KH. Saleh Lateng Banyuwangi. Laduni.id. https://www.laduni.id/post/read/70936/biografi-kh-saleh-lateng-banyuwangi

Merdeka.com. (2018, April 14). Ulama pejuang, KH Saleh Lateng diperjuangkan Guntur Romli jadi Pahlawan Nasional. Merdeka.com. https://www.merdeka.com/peristiwa/ulama-pejuang-kh-saleh-lateng-diperjuangkan-guntur-romli-jadi-pahlawan-nasional.html

NU Online. (2024). Anggota formatur pembentukan pengurus NU pertama. NU Online. https://www.nu.or.id/tokoh/anggota-formatur-pembentukan-pengurus-nu-pertama-xMqLD

NU Online Jatim. (2023, Agustus 9). Kiai Saleh Lateng, salah satu pendiri NU Banyuwangi punya banyak karomah. NU Online Jatim. https://jatim.nu.or.id/tokoh/kiai-saleh-lateng-salah-satu-pendiri-nu-banyuwangi-punya-banyak-karomah-YyPdP

Tim PCNU Banyuwangi. (2016). Sejarah Nahdlatul Ulama Banyuwangi. PCNU Banyuwangi.

Times Indonesia. (2020, Agustus 1). Pahlawan sakti pendiri NU Banyuwangi, inilah sejarah Kyai Saleh Lateng. Times Indonesia. https://timesindonesia.co.id/peristiwa-daerah/288334/pahlawan-sakti-pendiri-nu-banyuwangi-inilah-sejarah-kyai-saleh-lateng

Ditulis Oleh

NU Online Banyuwangi

Jurnalis / Kontributor resmi portal berita.

Membuka dokumen...

Link berhasil disalin!