Saturday, 19 September 2026
Jaringan Media
Logo Site
TERPOPULER • PCNU dan PEMKAB BANYUWANGI Sinergikan Langkah untuk Kemaslahatan Umat • MANTABKAN LANGKAH, PCNU RAPAT KORDINASI • Nu Online Merancang Grand Planing 5 Tahun Kedepan • KEPALA BPN SAMBANGI PCNU • PENGUKUHAN LTNU, SEBAGAI WUJUD GERAKAN LITERASI NU BANYUWANGI • Optimalisasi Website NU Online, PCNU Banyuwangi Gelar Meet and Great Virtual Bersama NU Online • Pengurus Baru LKNU Banyuwangi Dikukuhkan, Siap Bangun Zona Hijau Kesehatan • GP Ansor Muncar Gelar Istighatsah Malam Petik Laut, Doakan Ikan Melimpah dan Ekonomi Nelayan Membaik • PCNU Banyuwangi Sambut Silaturahmi DPC PKB Jelang Harlah Ke-28, Teguhkan Sinergi untuk Umat • "MWC, Lembaga, dan Banom Harus Aktif dan Satu Komando," Tegas Ketua PCNU Banyuwangi dalam TURBA Ngerandu NU di Kalipuro

POTRET CALON NAKHODA PBNU

NU Online Banyuwangi

Editor 27 Aug 2026 03:22 WIB

Bagikan Artikel
Link berhasil disalin!

KH. Imam Jazuli

Nama KH. Imam Jazuli menjadi salah satu tokoh yang kerap diperbincangkan. Beliau dikenal sebagai ulama, akademisi, sekaligus pemikir pesantren yang aktif menawarkan berbagai gagasan tentang masa depan NU, pendidikan Islam, dan hubungan agama dengan kehidupan berbangsa.
Lahir di Cirebon, Jawa Barat, pada 17 November 1976, KH. Imam Jazuli tumbuh dalam lingkungan keluarga pesantren yang kuat. Saat ini beliau mengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon, sebuah pesantren yang dikenal menggabungkan tradisi salaf dengan pendekatan pendidikan modern berwawasan global.

Tumbuh dari Tradisi Pesantren
KH. Imam Jazuli merupakan putra pasangan KH. Anas Sirojuddin dan Nyai Hj. Sukini Koniah. Dari garis keluarga, beliau adalah cucu KH. Sirojuddin, pendiri Pondok Pesantren Al-Ikhlas Tegal Koneng yang kemudian berkembang menjadi Pondok Pesantren Bina Insan Mulia.
Sejak kecil beliau dibesarkan dalam tradisi keilmuan pesantren. Lingkungan keluarga yang penuh dengan kajian kitab, pendidikan agama, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi fondasi utama yang membentuk karakter kepemimpinannya hingga hari ini.

Menimba Ilmu dari Indonesia hingga Timur Tengah
Perjalanan intelektual KH. Imam Jazuli dimulai di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, salah satu pesantren tertua dan paling berpengaruh di Indonesia. Di sana beliau mendalami berbagai disiplin ilmu keislaman klasik, mulai dari fikih, ushul fikih, tafsir, hingga ilmu alat.
Semangat belajarnya kemudian membawanya melanjutkan studi ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, pada Fakultas Theology and Philosophy. Pengalaman belajar di salah satu pusat keilmuan Islam dunia tersebut memperluas cara pandangnya dalam memahami Islam secara moderat, terbuka, dan kontekstual.
Beliau juga melanjutkan pendidikan pascasarjana di Universiti Kebangsaan Malaysia dengan konsentrasi Politik dan Strategi, kemudian memperdalam kajian Studi Strategis dan Pertahanan Internasional di Universiti Malaya.
Perpaduan antara pendidikan pesantren, Timur Tengah, dan perguruan tinggi internasional membentuk karakter Gus Imam sebagai ulama yang mampu menjembatani tradisi Islam klasik dengan tantangan dunia modern.

Mengabdi Melalui Pesantren dan Organisasi
Sepulang dari luar negeri, KH. Imam Jazuli memilih kembali ke pesantren untuk melanjutkan perjuangan keluarga. Di bawah kepemimpinannya, Pondok Pesantren Bina Insan Mulia terus berkembang sebagai lembaga pendidikan yang memadukan penguasaan kitab kuning, bahasa asing, teknologi, dan kepemimpinan global.
Di lingkungan Nahdlatul Ulama, beliau juga aktif mengemban berbagai amanah. Gus Imam pernah menjadi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2010–2015 dan dipercaya sebagai Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) PBNU, lembaga yang menaungi ribuan pesantren NU di seluruh Indonesia.
Kiprahnya yang aktif dalam dunia pesantren dan organisasi membuat namanya beberapa kali masuk dalam bursa tokoh muda yang dinilai memiliki kapasitas untuk memimpin NU di masa depan.

Mendorong Transformasi Pesantren
Bagi KH. Imam Jazuli, pesantren harus tetap menjaga identitasnya sebagai pusat pendidikan Islam, tetapi juga tidak boleh tertinggal menghadapi perkembangan zaman.
Melalui Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, beliau mengembangkan model pendidikan yang menggabungkan penguasaan kitab klasik dengan kemampuan bahasa asing, teknologi digital, kewirausahaan, serta kepemimpinan global.
Beliau juga aktif mendorong lahirnya media dakwah berbasis digital sebagai sarana memperluas penyebaran ilmu dan memperkenalkan wajah pesantren kepada masyarakat yang lebih luas, khususnya generasi muda.

Produktif Menulis dan Berdiskusi
Selain aktif berdakwah, KH. Imam Jazuli dikenal sebagai penulis yang produktif. Ratusan artikel dan opininya dipublikasikan di berbagai media nasional dengan tema-tema yang beragam, mulai dari keislaman, pendidikan pesantren, kebangsaan, hingga dinamika organisasi Nahdlatul Ulama.
Beberapa gagasan yang sering beliau angkat antara lain:

  • Transformasi pendidikan pesantren di era digital.
  • Penguatan tradisi intelektual pesantren.
  • Hubungan Islam dan demokrasi.
  • Strategi pengembangan Nahdlatul Ulama di abad kedua.
  • Peran pesantren dalam membangun peradaban.

Melalui tulisan-tulisannya, beliau mengajak masyarakat untuk melihat pesantren bukan hanya sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai pusat lahirnya pemimpin masa depan.

Pemikiran tentang Nahdlatul Ulama
Dalam pandangan KH. Imam Jazuli, Nahdlatul Ulama harus kembali meneguhkan jati dirinya sebagai jam'iyah para ulama yang berpijak pada nilai-nilai keilmuan, bukan sekadar menjadi organisasi yang sibuk dengan dinamika politik praktis.
Beliau menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara otoritas Syuriyah sebagai penjaga arah keagamaan dan Tanfidziyah sebagai pelaksana program organisasi. Menurutnya, seluruh kebijakan organisasi harus tetap berpijak pada konstitusi NU, yakni Qanun Asasi, AD/ART, dan nilai-nilai yang diwariskan oleh para muassis.
Dalam berbagai tulisannya, Gus Imam juga mendorong penyelesaian berbagai dinamika internal NU melalui pendekatan islah konstitusional, yaitu rekonsiliasi yang dibangun di atas penghormatan terhadap aturan organisasi, musyawarah, dan persaudaraan.
Di bidang politik, beliau memandang bahwa hubungan historis antara NU dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memiliki akar perjuangan yang panjang. Karena itu, beliau sering mengajak warga Nahdliyin untuk memahami relasi tersebut secara historis dan konstitusional, tanpa menghilangkan prinsip kemandirian organisasi.
Beliau juga menolak berbagai bentuk fragmentasi yang dapat memecah belah warga NU. Menurutnya, kekuatan Nahdlatul Ulama justru terletak pada persatuan, ukhuwah, serta kemampuan merawat perbedaan dalam bingkai Ahlussunnah wal Jamaah.
Dengan demikian, KH. Imam Jazuli merupakan representasi ulama pesantren yang memadukan kedalaman tradisi, keluasan wawasan global, dan keberanian menawarkan gagasan-gagasan baru. Melalui pesantren, organisasi, dan karya-karyanya, beliau terus mengajak Nahdlatul Ulama untuk tetap menjadi rumah besar bagi umat, sekaligus mampu menjawab tantangan zaman.
Bagi generasi muda, perjalanan hidup Gus Imam memberikan pesan bahwa menjadi santri bukan hanya tentang menguasai kitab, tetapi juga tentang membangun kepemimpinan, melahirkan inovasi, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.

Penulis: Himami Andalusia

Ditulis Oleh

NU Online Banyuwangi

Jurnalis / Kontributor resmi portal berita.

Membuka dokumen...

Link berhasil disalin!