Saturday, 19 September 2026
Jaringan Media
Logo Site
TERPOPULER • PCNU dan PEMKAB BANYUWANGI Sinergikan Langkah untuk Kemaslahatan Umat • MANTABKAN LANGKAH, PCNU RAPAT KORDINASI • Nu Online Merancang Grand Planing 5 Tahun Kedepan • KEPALA BPN SAMBANGI PCNU • PENGUKUHAN LTNU, SEBAGAI WUJUD GERAKAN LITERASI NU BANYUWANGI • Optimalisasi Website NU Online, PCNU Banyuwangi Gelar Meet and Great Virtual Bersama NU Online • Pengurus Baru LKNU Banyuwangi Dikukuhkan, Siap Bangun Zona Hijau Kesehatan • GP Ansor Muncar Gelar Istighatsah Malam Petik Laut, Doakan Ikan Melimpah dan Ekonomi Nelayan Membaik • PCNU Banyuwangi Sambut Silaturahmi DPC PKB Jelang Harlah Ke-28, Teguhkan Sinergi untuk Umat • "MWC, Lembaga, dan Banom Harus Aktif dan Satu Komando," Tegas Ketua PCNU Banyuwangi dalam TURBA Ngerandu NU di Kalipuro

POTRET CALON NAKHODA PBNU

NU Online Banyuwangi

Editor 26 Aug 2026 16:24 WIB

Bagikan Artikel
Link berhasil disalin!

Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar

Di antara tokoh Islam Indonesia yang mampu memadukan kedalaman ilmu pesantren dengan wawasan akademik kelas dunia, nama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA menempati posisi yang istimewa. Beliau dikenal sebagai ulama ahli tafsir, cendekiawan Muslim, akademisi, sekaligus tokoh nasional yang hingga kini terus mengabdikan diri bagi umat dan bangsa.
Sejak dilantik sebagai Menteri Agama Republik Indonesia ke-25 pada tahun 2024, kiprah Prof. Nasaruddin semakin luas. Namun jauh sebelum itu, beliau telah dikenal sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, Guru Besar Ilmu Tafsir, penulis produktif, dan salah satu wajah Islam Indonesia yang dihormati di forum-forum internasional.

Berawal dari Pesantren di Sulawesi Selatan
Prof. Nasaruddin Umar lahir di Ujung-Bone, Sulawesi Selatan, pada 23 Juni 1959. Masa kecilnya tumbuh dalam lingkungan religius yang membentuk kecintaannya terhadap ilmu agama sejak dini.
Beliau menempuh pendidikan dasar hingga Pendidikan Guru Agama (PGA) di Pondok Pesantren As'adiyah Sengkang, salah satu pesantren tertua dan paling berpengaruh di kawasan Indonesia Timur. Dari pesantren inilah beliau mengenal tradisi keilmuan Islam yang kuat, adab terhadap guru, serta pentingnya sanad keilmuan dalam memahami agama.

Menyatukan Pesantren dan Dunia Akademik
Semangat belajar membawanya melanjutkan pendidikan ke IAIN Alauddin Makassar, hingga meraih gelar sarjana.
Perjalanan intelektualnya belum berhenti. Beliau kemudian melanjutkan studi Magister dan Doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, bahkan lulus sebagai salah satu alumni terbaik.
Kehausan terhadap ilmu membawanya belajar ke berbagai universitas ternama dunia. Sebagai visiting scholar, beliau pernah melakukan studi dan riset di McGill University (Kanada), Leiden University (Belanda), Sophia University (Jepang), SOAS University of London (Inggris), hingga Georgetown University (Amerika Serikat).
Pengalaman internasional tersebut membuat cara pandangnya semakin luas. Ia mampu menghubungkan khazanah klasik Islam dengan tantangan global yang dihadapi umat manusia saat ini.

Perjalanan Mengabdi
Karier Prof. Nasaruddin berkembang secara bertahap, mulai dari dunia akademik hingga pemerintahan.
Beliau pernah menjadi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, kemudian dipercaya sebagai Wakil Menteri Agama Republik Indonesia periode 2011–2014.
Pada tahun 2016, beliau menerima amanah sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, masjid terbesar di Asia Tenggara sekaligus simbol persatuan umat Islam Indonesia.
Karier pengabdiannya mencapai babak baru ketika Presiden Prabowo Subianto menunjuknya sebagai Menteri Agama Republik Indonesia pada tahun 2024. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai Guru Besar Ilmu Tafsir dan pernah menjabat sebagai Rektor Institut PTIQ Jakarta.

Produktif Melahirkan Karya
Selain aktif berdakwah dan mengajar, Prof. Nasaruddin Umar merupakan salah satu akademisi Muslim paling produktif di Indonesia. Karya-karyanya banyak menjadi rujukan dalam kajian tafsir, gender, tasawuf, dan moderasi beragama.
Beberapa karya penting beliau antara lain:

  • Argumentasi Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur'an, karya monumental yang menjadi rujukan nasional dalam kajian tafsir dan gender.
  • Ketika Fikih Membela Perempuan.
  • Shalat Sufistik.
  • Allah Tujuan Kita.
  • Kontemplasi Ramadhan.
  • Islam di Negeri Non-Muslim.
  • Moderasi Beragama dan
  •  Tantangan Masa Depan Umat.

Nasionalisme Indonesia.Fikih Ekonomi Kontemporer: Sumber Rezeki Halal.Melalui tulisan-tulisannya, beliau berusaha menghadirkan Islam yang tidak hanya kuat secara dalil, tetapi juga mampu menjawab persoalan kemanusiaan dan kehidupan modern.

Cara Pandang terhadap Nahdlatul Ulama
Sebagai bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama, Prof. Nasaruddin Umar memandang NU bukan sekadar organisasi keagamaan, tetapi sebagai pesantren besar bangsa Indonesia.
Menurut beliau, kekuatan NU terletak pada tradisi sanad keilmuan, moderasi dalam beragama (wasathiyah), dan kemampuannya merawat persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Beliau juga menegaskan bahwa NU harus terus menjadi jembatan antara otoritas keulamaan dengan kehidupan modern. Artinya, ulama tidak cukup hanya memahami kitab, tetapi juga harus mampu memberikan solusi terhadap persoalan kebangsaan, kemanusiaan, teknologi, hingga perubahan sosial.
Karena itu, beliau mendorong agar NU terus memperkuat sistem kaderisasi, menjaga tradisi pesantren, sekaligus membuka diri terhadap inovasi. Prinsip al-muhafazhah 'ala al-qadim ash-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah menjadi fondasi penting dalam menghadapi perubahan zaman.

Jejak Prestasi
Sepanjang perjalanan hidupnya, Prof. Nasaruddin Umar telah mengukir banyak capaian penting.
Beliau menjadi Guru Besar Ilmu Tafsir, Rektor PTIQ Jakarta, Dirjen Bimas Islam, Wakil Menteri Agama, Imam Besar Masjid Istiqlal, hingga dipercaya menjadi Menteri Agama Republik Indonesia.
Di tingkat internasional, beliau juga berperan dalam berbagai forum dialog lintas agama. Salah satu momentum penting adalah keterlibatannya dalam Deklarasi Istiqlal, yang menegaskan komitmen bersama terhadap perdamaian, toleransi, dan kemanusiaan global. Kiprahnya membuat beliau dikenal sebagai salah satu tokoh Muslim Indonesia yang aktif membawa pesan Islam moderat ke panggung dunia.
Dengan demikian,Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar merupakan contoh bagaimana seorang ulama mampu menghubungkan tiga dunia sekaligus: pesantren, kampus, dan pemerintahan. Kedalaman ilmu tafsir yang dimilikinya berpadu dengan pengalaman internasional, sehingga melahirkan cara pandang Islam yang moderat, inklusif, dan relevan dengan tantangan abad ke-21.
Bagi generasi muda Nahdlatul Ulama, perjalanan beliau memberikan pelajaran bahwa menjaga tradisi bukan berarti menolak perubahan. Justru dengan fondasi keilmuan yang kokoh, seseorang dapat melangkah lebih jauh, menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam, sekaligus berkontribusi nyata bagi bangsa dan peradaban dunia.

Ditulis Oleh

NU Online Banyuwangi

Jurnalis / Kontributor resmi portal berita.

Membuka dokumen...

Link berhasil disalin!